Sektor pertanian masih menjadi yang termarjinalkan



Sektor pertanian selama ini masih menjadi sektor yang termarjinalkan dan kurang begitu berperan dalam mendorong perekonomian Bali. Namun, Pemprov Bali saat ini tengah mendorong sektor yang digeluti sebagian besar masyarakat Bali tersebut melalui hilirisasi dan menggenjot ekspor.
Direktur Pascasarjana Universitas Mahasaraswati Denpasar, Dr. Ir. I Ketut Sumantra, M.P., di kampus Pascasarjana Unmas Tohpati, Kamis (9/1) mengatakan, kondisi pertanian di Bali sekarang masih dalam kondisi sedikit memprihatinkan. Namun, jika dilihat dari sumbangan sektor pertanian  merujuk data PDRB Bali triwulan III/2019 menunjukkan kontribusi di bidang pertanian sekitar 13,60 persen. Jika dibandingkan dengan sektor lain masih didominasi jasa, termasuk juga akomodasi dan lainnya. Hal ini merupakan hal yang perlu dicermati dan lebih-lebih bila ingin pertanian itu bisa eksis dan bisa menyokong perekonomian.
Untuk menjadikan petani itu berdaya, ada beberapa upaya yang perlu dilakukan di sini adalah melakukan hilirisasi produk pertanian. Karena selama ini yang menjadi kendala adalah pemasaran dan produk yang tidak terserap pasar saat panen raya. Hal ini menjadi PR kita semua terutama pemerintah,” katanya.
Ia menambahkan, gebrakan yang dilakukan Gubernur Koster saat ini sangat bagus dengan fokus pada pengembangan pertanian dengan menggenjot ekspor dan hilirisasi produk pertanian menjadi berbagai produk turunan melalui UMKM. “Pemerintah sekarang harus menciptakan atau membuat suatu peluang industri sesuai dengan potensi- potensi yang dimiliki oleh petani.  Masyarakat tentu bisa membaca suatu inovasi produk untuk tingkatkan nilai tambah produk pertanian,” katanya.
Ke depan, perlu dilakukan edukasi para petani dan memberikan informasi produk pertanian yang potensial dibudidayakan. ”Petani perlu diedukasi tentang teknologi dan inovasi di bidang pertanian. Seperti contoh potensi pertanian organik sangat memungkinkan untuk dikembangkan. Ini perlu edukasi bagaimana petani-petani itu bisa menciptakan produk yang ramah lingkungan dan memiliki nilai ekonomis lebih tinggi,” katanya.
Sementara itu, Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, I Wayan Sunarta mengatakan, Dinas Pertanian terus melakukan pembenahan di sektor pertanian, karena tujuan akhir dari pembangunan pertanian itu adalah sejahterakan petani, serta ketersediaan pangan yang cukup bagi masyarakat.

ArenSakar

Komentar

Postingan Populer